Refleksi 6 Etnomatematika yang Skunder dan primer

TUGAS 6 REFLEKSI Vcon 6 ETNOMATEMATIKA :

Dosen: Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Dateline: Senin, 29 Maret 2021, pk 24.00 wib

File dalam PDF dikirim WA Japri 081578708917

NIM 20709251024

NAMA FILE: Refleksi Vcon 6_ETNO _Aswar_S2 Pendidikan Matematika_22  Maret 2021

Refleksi

 

“Judul”

Etnomatematika yang Skunder dan primer

 

Sebelum mempersiapkan mata kuliah etnomatematika terlebih dahulu kita mulai dengan menbaca doa dan keyakinan kita masing masing sehingga kita bisa mendapat pelajaran hari ini begitu bermanfaat

Beliau selalu ingatkan sebagai apersepsi pertama- tama membuat peta konsep ada prinsip prinsip ada semcam steal atau gaya, mengarah kepada fenomena alam semesta ciptaan tuhan. Maka perlunya kita membangun hidup, hidup ini kalau dalam matematika adalah membangun ethnomatematika.

Maka yang Namanya membangun itu ada Namanya balikan atau refleksi di setiap diagram atau peta konsep itu, misalnya pengembangan kurikulum, mata kuliah kajian matematika itu membuat dikembangkan dengan pengembangan kurikulum.

Maka segala macam itu di hidupkan di turunkan di Pendidikan, Pendidikan diturunkan jadi kurikulum, maka dari itu ethnomatematika itu salah satu implementasi dari kurikulum. Yang nama peta konsep yang sifatnya hidup yang sifatnya berjalan pasti ada timeline sebelum dan setelah dan setelah itu ada bickback, itulah Namanya prinsip kalau tidak maka hidup kita akan mengalami kekurangan atau kendala atau hambatan.

Bagaimana caranya menghadapi setuasi sekarang ini ada dua hal ada yang tetap dan ada yang berubah, kurikulum yang tetap adalah pembelajaran matematika yang berbasis pembelajaran ethnomatematika, yang berubah adalah yang tetap selalu ada siswa selalu ada guru, maka dari itu setiap ada Pendidikan pasti ada Namanya guru dan siswanya ini lah yang dikatakan bersifat tetap, yang bersifat berubah adalah yang ada didalam siswa dan yang ada didalam guru dan yang ada didalam sistemnya, kurikulumnya berubah filsafatnya berubah kemudian teorinya berubah dan paradigmanya berubah metodologinya berubah modelnya berubah strateginya berubah sintaknya juga berubah kemudian peran guru juga berubah peran siswa juga berubah. Berubah itu bukan liner maka perubahaan itu sekuler dan bervariasi dan banyak perkara itu namanya dinamis, kalau perubahaan liner itu Namanya statis, artinya sekarang ini kita sampai pada fase perubahaan paradigma pembelajaran.

Peran guru adalah sebagai fasilitator dan peran siswa adalah sebagai actor, maka dengan mata kuliah ethnomatematika ini kalian adalah sebagai aktornya bapak sebagai fasilitatornya  salah satu peran fasilitator adalah memfasilitasi refleksi ada pertanyaaan-pertanyaan kemudian menanyakan Kembali karya ada dan sebagainya

Maka akan ada hasilnya bisa bermacam macam dan berbeda beda sesuai dengan kompetensi mahasiswa, sesuai dengan keadaan yang bersangkutan kadang kadang kita tidak bisa atau belum mengukur hal yang sama maka paradigma paradigma dalam pembelajaran belum mengalami perubahaan.

Orangtua juga harus tetap belajar, orang itu tidak mengerti tapi tidak mau dimengerti itu yang jadi masalah. Itu adalah menjadi solusi sosial kemasyarakat kita.

Maka untuk yang sarjana pembelajaran matematika yang berbasis ethnomatematika.

Kalau magister perangkat pembelajaran sebagai pelengkap di tugaskan buat draf penelitian. Dan bisa menghasilkan tulisan atau artikel yang bisa dikirim ke jurnal dan bisa menghasilkan proposal thesis, tuntutan bagi mata kuliah ethnomatematika jurusan magister.

Ethnomatematika itu selalu ada 3 perkara hidup itu apapun agamanya apapun bangsanya apapun suku nya apapun usianya apakah itu manusia atau tumbuh-tumbuhaan atau binatang 3 perkara yang pikiran manusia antologi epistemology dan aksiologi hakekatnya adalah metodologi dan aksiologi atau failyounya atau nilainya atau etik dan estetikanya manfaat kebanyakan dan keindahaan.

Jadi ethnomatematika itu adalah pembelajaran yang contestual maka bisa di pelajaari dengan mengunakan metode kontesktual nya, hanya saja kontestnya contest budaya, contest itu bermacam-macam maka contest itu ada dua contest di dalam ruang maupun contest diluar ruang, maka contest didalam ruang itu contest belajar itu bisa keterampilan keterampilan atau kompetensi yang sudah di kuasai  sebelumnya, maka contestual pembelajaran matematika yang diluar kelas yang berbasis budaya the power of the call (semuanya).

Makanya kita sebagai manusia ini harus mempunyai determin, mempunyai determinasi dan siap untuk di determinasi itu lah orang cerdas,  dan orang cerdas itu mempunyai determinasi dan siap determinasi. Kita hidup harus siap di determinasi meskipun sudah pernah menjadi atau sebagian dari kekuasaannya tersebut.

Maka dari itu kita harus mampu untuk menyesuaikan dengan keadaan kita sendiri. Disitulah titik rusial orang tersebut ada orang yang mendapatkan gelar maka dia akan jadi sombonk tergila gila.

Ethnomatematika adalah sebuah artefak harus mempunyai antologis keilmuan yang mengetahui gurunya dan dosennya apakah sebuah artefak itu mempunyai unsur unsur dari pada konsep matematika. Konsep matematika itu meliputi bilangan pengukuran geomteri arifmetika aljabar dan besaran volume dan seterusnya tergantung levelnya semua ketellaturan pasti itu unsur matematika semua pola dia bertambah tapi berpola pasti itu fungsipinonfesial atau deret bertambah atau berpola adalah sebagai tumbuhaan maka dapat diketahui fungsinya dari pada pertumbuhaan.

Maka artefak itu mengetahui gurunya karena gurunya Sudah mempunyai konsep matematika nya jadi bagi guru untuk menemukan artefak itu adalah  sudah mempunyai konsep matematikanya tetapi ternyata yang kita lihat, kemudian metologi nya dan antologisnya kadang kadang bisa tergantung antologisnya bisa tidak tetapi jika tidak ada metodologi maka tidak ada antologisnya, misalnya jika kita tidak berusaha menemukan tidak mengungkap artefak itu maka tidak akan ketemu,

Kalau di perguruan tinggi matematika apa yang digunakan untuk mengembangkan situs situs situ pertama ditemukan dahulu matematikanya apa yang setelah di pakai dan digunakan bisa digunakan untuk mengembangkan menambah banyak yang berkualitas peran ethnomatematika di perguruan tinggi.

Metodologinya maka kita di pengaruh oleh unsur yaitu era pandemic oleh karena itu kita bermasalah pada sumber data, yang ada data primer dan data sekunder, seperti sejarah matematika juga ada sejarah primer dan sekunder tetapi kalau karya karya perinsial seperti filsafat ilmu-ilmu hemonora sosial dan sebagainya maka data primer dan data sekundernya beda

Kalau sejarah dan ethnomatematika data primer itu dipegang  datang dan pegang di amati langsung benda nya. Data yang asli data primer langsung data ke lokasi ke artefak. Karena pandemic sekarang bisa saja data yang di ambil adalah data sekunder kelemahaan data sekunder adalah tidak bisa sedetail dan tidak bisa rinci sesuai dengan kehendak peneliti. Seperti kita kamus Bahasa Indonesia. Oleh karena itu menjadi tantangan buat peneliti untuk menemukan sumber sumber skunder berupa karya karya orang.

Didalam ethnomatematika kasana dalam landasan teori Ketika sumber artefak sumber primer ada sumber skunder ada data primer ada data skunder, Ketika referensi landasan teori apapun ilmu maka pengarang langsung itu merupakan sumber primer.

Tugas seorang mahasiswa yang disebut sebagai kedudukan atau posisi ide gagasan atau keilmuan mata kuliah ini posisinya seperti apa video ini memenuhi syarat formal dan syarat normatif, tetapi akademiknya dalam arti santefik keilmiaan perlu di tambah dalam bentuk karya karya ilmiah tergantung posisinya jika posisinya terletak di karya ilmiaah.

Maka perkuliahaan ini di jadikan referensi sebagai normatif dan formal karena memenuhi syarat syarat administrasi,

Sebaik apa karya anda peta konsep kalau tidak ada sumbernya maka tidak bermakna tidak punya nilai santifik jika ada punya sumber maka buat lah catatan dibawah di ambil dari mana. Bukan berarti kalau mencantumkan referensi rendahaan kalian maka itu akan naik nama kalian berarti membaca buku.

Yang nama tesis itu adalah karya ilmiah, tetapi kalau karya ilmiah itu kemudian mau di angkat setara karya ilmiah yang ada di jurnal maka itu tidak termaksud karya ilmiah oleh karena itu kalau mau membuat artikel maka harus di damping oleh orang yang gelar Doctor pemegang validitas keilmiaan, berarti penting sekali yang nama referensi.

Tugas harus berkualitas jangan asal copy punya orang tidak mencantumkan sumber atau nama pengarangnya kemudian juga tidak punya referensinya pengarangnya tidak punya arti sentifik atau ilmiah jadi sumber itu harus ada pengarangnya, cari lah sumber ethnomaematika yang berkualitas, Supaya karya anda itu berkualitas.

Penelitian ini tidak bersifat liner, harus mendata yang lebih baik harus menunggu data selama 2 bulan dan sambal menunggu ijin, hidup ini harus parallel harus melingkar lingkar skilit berputar putar. Jurnal itu berbasis pada riset mempelajari data skunder. Maka dari itu penelitianya harus ada instrument sebagai  pembeda apakah itu kajian atau penelitian.

 Bagaimana bikin instrument, instrument itu adalah berbasis kepada Skema pengembangan instrumen ethnomatematika berasal atau di turunkan dari rumusan masalah penelitian beberapa macam atau beberapa aspek maka akan di hasilkan nya berkategori, berkategori itu akan menghasilkan kriteria, dar kriteria kriteria akan menghasilkan indikator indikator aspek kategori dari indikator dari indikator lah lahirnya kisi kisi atau lahirnya instrumen, tidak boleh sembarangan membuat butir butir pertanyaan tersebut. aspek kategori kriteria indikator itu berdasarkan referensi

 Akan dikirimkan contoh instrument, jika ada skema makanya bisa dikatakan valid, di pertanyakan datanya dari mana. Skema pembelajaran tersbut jika akan menjamin validitas dari penelitian saya walaupun kecil tapi valid jadi sebuah penelitian itu harus memenuhi validitas isi atau validitas logis, logis kenapa karena berdasarkan referensinya. Kalau tidak berdasarkan referensi atau bebas tidak terkontrol  akan menjadi turun dan rendah. Maka referensi itu tempat berlindung buat suatu penelitian

Maka kalau mau membuat suatu artikel jurnal ada abstrak pendahuluan ada metodologi  pembahasan kesimpulan referensi rumusan masalah.

Maka apapun agamanya ada orang orang sakti sesuai dengan agamanya masing masing orang sakti adalah orang pintar, karena apa tergantung bagaimana dijalankan atau tidak maka orang jawa dulu, orang jawa dulu ketemu islam dan hindu ada namanya transisi tergantung dijalan kana tau tidak mengamalkannya dan sebagainya bahkan keburukan pun ada yang orang hebat tapi dalam arti buruk karena dia menjalankan ilmunya kalau begitu kita tidak sukai yang kita sukai adalah yang baik baik, hebat tetapi dalam rangka kebaikan dijalankan didunia in ikan cuman ada hitam dan putih surga dan neraka oleh karena itu seperti kita semuanya salut penentukan kepada ethnomatematika  ilmu inovasi pembelajaran matematika belajar banyak krakter krakter para tokoh nasional maupun daerah menjalan hidupnya.

Maka bapak memberikan apreasiasi mengambil sikap dan perbuatan dan pekerjaan yang yang ranah inovatif dan inovasi pembelajaran matematika melalui ethnomatematika kalau dinarasikan bisa menjadi buku yang tebal contohnya trisno sang innovator aswar sang inovator luar biasa mengikuti kuliah ethno adalah berpotensi berinovasi.

Penutup Proses Pembelajaran Vcon 6

Demikian saya meminta maaf jika ada kesalahan kekurangan dan sebagainya yang muda bisa berpikir tua,  yang tua bisa berpikir muda,  paling tidak semangatnya contohnya saya bapak yang dijelaskan tadi kepada mahasiswanya beliau tetap semangat semangat untuk memberikan materi yang berkoar-koar untuk berjuang membela kaum yang lemah kita belajar matematika mahasiswa itu lemah dibanding dosennya itulah dinamakan perjuangan 

Baiklah  ucapkan selamat untuk berkarya semoga tetap terjaga protokol kesehatan di daerah masing-masing khususnya diri sendiri keluarga dan tidak lupa juga saya ucapkan banyak terimah  kasih para pemerintah yang sudah  berkontribusi se optimal mungkin dan bersinergi untuk menjaga protokol kesehatan di Indonesia.


Komentar